a
Tampilkan postingan dengan label Wirausaha. Tampilkan semua postingan
Karakteristik kewirausahaan

Karakteristik kewirausahaan

Karakteristik kewirausahaan
Selain ciri ciri dan sifat/watak kewirausahaan  seperti yang telah kita bahas pada kuliah terdahulu, ahli lain seperti M Scarborough dan Thomas W Zimmerer (1993) mengemukakan 8 karakteristik berikut : 
1.      Desire or responsibility, yaitu memiliki rasa tanggung jawab atas usaha2 yang dilakukannya. Seseorang yang punya tanggung jawab akan selalu mawas diri.
2.      Preference for moderate risk, yaitu lebih memilih risiko yang moderat.
3.      Confidence in their ability to success ,yaitu percaya atas kemampuan diri untuk berhasil.
4.      Desire for immediate feedback, yaitu selalu menghendaki umpan balik yang segera.
5.      High level of energy, yaitu memilikisemangat dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik.
6.      Future orientation, yaitu berorientasi ke masa depan, perspektif dan berwawasan jauh ke depan.
7.      Skill at organizing, yaitu memiliki ketrampilan dalam mengorganisasikan sumberdaya untuk menciptakan nilai tambah.
8.      Value of achievement over money, yaitu lebih menghargai prestasi daripada uang.

Adapun karakteristik dalam bentuk nilai2 dan perilaku kewirausahaan menurut Arthur Kuriloff dan M.Mempil (1993) adalah sbb. :

                      VALUES                                             BEHAVIOR
*  Commitment                                            *  Staying with a task until finished                 
*  Moderate risk                                           *  Not gambling cut choosing a middle cours
 *  Seeing opportunities                                *   and grasping them
*  Obyectivity                                               *  observing reality clearly
*  Feedback                                                  *  analyzing timely performance data to gu-
                                                                          ide activity.
*  Optimism                                                 *   showing confidence in novel situatins
*  Money                                                      *   seeing it as resource and notan end it self
*  Proactive management                             * managing through reality based on forward
                                                                          planning.

Dalam pada itu menurut Dan Steinhoff dan John F Burges sifat dan kepribadian wirausaha yang berhasil mencakup :
1.      They have the self confidence to work hard independently and understand that the risk taking is part of the equation for success.
2.      They have organization ability, can set goals, are results – oriented and take responsibility for the results of their endeavors – good or bad.
3.      They creative and seek an outlet for their creativity in an entrepreneurship
4.      They enjoy challenges and find personal fulfillment in seeing their ideas through to completion.
HAKIKAT KEWIRAUSAHAAN

HAKIKAT KEWIRAUSAHAAN

Pada dasarnya hakikat kewirausahaan merujuk pada sifat, watak dan ciri2 yang melekat pada seseorangyang mempunyai kemauan keras untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia usaha yang nyata dan dapat mengembangkannya dengan tangguh. Jadi inti kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Dalam konteks manajemen wirausah adalah seseorang yangmemiliki kemampuan dalam menggunakan sumberdaya (money, materials, man, teknologi /machine , untuk menghasilkan suatu bisnis baru, produk baru, proses produksi ataupun pengembangan organisasi usaha. Sekaligus mempunyai kombinasi elemen2 (unsur2) internal yang mencakup kombinasi visi, motivasi,komunikasi, optimisme, dorongan semangat dan kemampuan untuk memanfaatkan peluang usaha. Menurut Edi Swasono (1978) berkenaan dengan aspek bisnis, wirausaha adalah pengusaha tetapi tidak semua pengusaha adalah wira usaha

Menurut Norman M.Scarborough dan Thomas W.Zimmerer (1993) wirausaha adalah :
” An entrepeneur is one who creates a new budiness in the face of risk and uncertainty for the purpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and assembling the necessary resources to capitalize on those opprtunities”

Sedangkan menurut Dan Steinhoff dan John F.Burgess (1933) wirausaha adalah :
“ Aperson who organizes, manages,and assumes the risk of abusiness or enterprise is an entrepreneur. Entrepreneur is individual who risk financial,material and human resources a new way to create a new business concept or opportunities within an existing firm”

Dari pengertian diatas seolah-olah kewirausahaan identik dengan kemampuan para pengusaha dalam dunia usaha (bisnis). Padahal kewirausahaan tidak selalu identik dengan watak atau cirri pengusaha semata, Karenna sifat ini dimiliki juga oleh yang bukan pengusaha.

Menurut Schumpeter wirausaha merupakan pengusaha yang melaksanakan kombinasi2 baru dalam bidang teknik dan komersial ke dalam bentuk praktek. Jadi inti dari fungsi pengusaha adalah pengenalan dan pelaksanaan kemungkinan2 baru dalam perekonomian. Kemungkinan2 baru tsb. mencakup :
  1. Memperkenalkan produk baru atau kwalitas baru suatu barang yang belum dikenal oleh konsumen.
  2. Melakukan suatu metode produksi baru, dari suatu penemuan ilmiah baru dn cara2 baru untuk menangani suatu produk agar lebih mendatangkan keuntungan. 
  3. Membuka pasar baru yaitu pasar yang belum pernah ada atau belum pernah dimasuki cabang industri yang bersangkutan. 
  4. Pembukaan suatu sumber dasar baru, atau setengah jadi ataupun sumber2 yang masih harus dikembangkan. 
  5. Pelaksanaan organisasi baru

Kewirausahaan muncul bila seseorang berani mengembangkan usaha2 dan ide2nya. Proses kewirausahaan mencakup semua fungsi aktivitas dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha. Oleh karenanya wirausaha adalah orang yang memperoleh peluang dan menciptakan organisasi untuk mencapai peluang tsb. (Bygrave, 1995). Sementara itu menurut Meredith (1996), berwirausaha berarti memadukan watak pribadi, keuangan, dan sumberdaya. Dengan demikian berwirausaha merupakan merupakan suatu pekerjaan atau karir yang harus bersifat fleksibel dan imajinatif, mampu merencanakan, mengambil risiko, membuat keputusan2 dan tindakan2 untuk meraih tujuan. Syarat berwirausaha harus memiliki kemampuan untuk menemukan dan mengevaluasi peluang, mengumpulkan sumberdaya yang diperlukan dan bertindak untuk meraih keuntungan dari peluang2 tsb.

Jadi esensi kewirausahaan adalah menciptakan added value di pasar melalui proses kombinasi antara sumberdaya dengan cara2 baru yang berbeda agar dapat memperoleh competitive advantage. Adapun cara2 tsb. meliputi : 
  1. Developing new technology 
  2. Discovering new knowledge 
  3. Improving existing goos or services 
  4. Finding different ways of providing more goods and services with fewer resources. 
Dalam pada itu secara mendasar jiwa kewirausahaan ada pada setiap orang yang memiliki perilaku inovatif, kreatif, menyukai perubahan, tantangan dan menghendaki kemajuan.

Dari gambaran diatas ada 6 hakikat penting kewirausahaan , yaitu : 
  1. Kewirausahaan merupakan suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang didasarkan pada sumberdaya, tenag penggerk,tujuan, siasat,kiat,proses dan hasil bisnis. 
  2. Kewirausahaan merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. 
  3. Merupakan suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan problem dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha). 
  4. Merupakan suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha dan pengembangan usaha
  5. Merupakan proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan sesuatu yang berbeda (inovatif) yang bermanfaat memberi nilai lebih. 
  6. Merupakan usaha menciptakan added value dengan jalan mengkombinasikan sumberdaya melalui cara2 baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. Added value tsb dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru untuk menghasilkan produk baru yang lebih efisien, memperbaiki produk yang sudah ada, menemukan cara baru untuk memberikan kepuasn pada konsumen.

Dari ke 6 konsep diatas kewirausahaan dapat didifinisikan sebagai : SUATU KEMAMPUAN KREATIF DAN INOVATIF YANG DIJADIKAN KIAT, DASAR, SUMBERDAYA, PROSES DAN PERJUANGAN UNTUK MENCIPTAKAN NILAI TAMBAH BARANG DAN JASA, YANG DILAKUKAN DENGAN KEBERANIAN UNTUK MENGHADAPI RISIKO.
Penjelasan Ilmu Kewirausahaan

Penjelasan Ilmu Kewirausahaan

Pada dasarnya ilmu kewirausahaan merupakan suatu disiplin ILMU YG MEMPELAJARI TENTANG NILAI, KEMAMPUAN, DAN PERILAKU SESEORANG DALAM MENGHADAPI TANTANGAN HIDUP UNTUK MEMPEROLEH PELUANG DENGAN BERBAGAI RISIKO YANG MUNGKIN DIHADAPINYA. Dalam konteks bisnis seperti yang telah dikemukakan oleh Thomas w.Zimmerer (1996) bahwa : ” Entrepreneurship is the result of a diciplined, systematic process of applying creativity and innovations to needs and opportunities in the marketplace “

Dahulu orang berpendapat bahwa kewirausahaan dianggap sebagai bakat yang dibawa sejak lahir (entrepeneurship are born, not made), namun belakangan anggapan tsb. sudah berubah ke anggapan bahwa “ Entrepeneurship are not only born ,but also made “. Hal ini berarti bahwa kewirausahaan dapat dipelajari dan atu diajarkan. Pengembangan bakat kewirausahaan dapat dilakukan melalui pendidikan , oleh karenanya untuk menjadi wirausahawan yang sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, melainkan harus juga memiliki pengetahuan mengenai segala aspek usaha yang akan dimasukinya.

Ilmu kewirausahaan ini mulai berkembang pesat sejak awal abad 20, di USA ada lebih dari 500 PT mengajarkan /memberikan pendidikan mengenai kewirausahaan. Ilmu kwewirausahaan ini diajarkan sebagi ilmu tersendiri dengan argumentasi sbb. : 
  1. Kewirausahaan berisi body of knowledge yang uth dan nyata, yaitu dengan adanya teori, konsep dan metode ilmiah yang lengkap. 
  2. Kewirausahaan memiliki dua konsep, yaitu posisi “venture start up” dan “venture growth”, dengan demikian jelas tidak masuk dalam kerangka pendidikan manajemen umum (frame work general management courses) yang memisahkan manajemen dari kepemilikan usaha (business ownership). 
  3. Kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang memiliki obyek tersendiri, yaitu kemampuan untuk menciptakansesuatu yang baru dan berbeda (ability to create new and different things). 
  4. Kewirausahaan merupakan alat untuk menciptakan pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan (wealth creationprocess an entrepreneurial endeavor by its ownnight, nation’s prosperity, individual self reliance) atau kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Perkembangan ilmu kewirausahaan sangat pesat, identik dengan perkembangan ilmu bisnis. Pada awalnya ilmu kewirausahaan berkembang dalam bidang perdagangan, namun dengan pesat mengalami evolusi ke berbagai bidang lain seperti industri, pendidikan, kesehatan serta berbagai institusi lain seperti lembaga pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya , dalam menciptakan perubahan, pembaharuan dan kemajuan. Kewirausahaan tidak saja digunakan sebagai kiat2 bisnis jangka pensdek, tetapi juga digunakan sebagai alat kehidupan secara umum dalam jangka panjang untuk menciptakan peluang (misalnya di bidang bisnis à perusahaan sukses dan

memperoleh peluang besar karena memiliki kreativitas dan inovasi yang baik. Melaui kreativitas dan inovatif, wirausaha menciptakan nilai tambah barang sehingga memperoleh berbagai keunggulan termasuk competitive advantage). Berbagai perusahaan seperti Microsoft, Sony, Toyota merupakan contoh2 perusahaan yang sukses dalam produknya. Demikian pula halnya dalam bidang lain seperti pemerintahan , dewasa ini dituntut untuk memiliki jiwa kewirausahaan yang memunculkan kreativitas dan inovasi sehingga akan dapat memiliki motivasi, optimisme, dan berlomba untuk menciptakan cara2 maupun output baru yang lebih efisien, efektif, inovatif, fleksibel dan adaptif. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan David Osborne (1992) dalam bukunya ”Reinventing Goverment” bahwa sejalan dengan perkembangan dunia dewasa ini, pemerintah dituntut untuk berjiwa kewirausahaan (entrepreneuria goverment).
Ringkasan dan Implikasi bagi para Wirausahawan

Ringkasan dan Implikasi bagi para Wirausahawan

Ringkasan dan Implikasi bagi para Wirausahawan
Persepsi
Individu-individu berperilaku dalam suatu cara tertentu yang didasarkan tidak pada cara lingkungan luar yang sebenarnya tetapi, lebih pada apa yang mereka lihat atau yakini. Suatu organisasi dapat membelanjakan jutaan dolar untuk menciptakan suatu lingkungan kerja yang menyenangkan bagi karyawannya. Tetapi meskipun ada pengeluaran ini, jika seorang karyawan meyakini bahwa pekerjaannya brengsek. karyawan tersebut akan berperilaku sesuai dengan keyakinan itu. Itulah persepsi si karyawan terhadap situasi yang menjadi dasar perilakunya. Karyawan yang mempersepsikan manajer atau pimpinannya sebagai seorang yang mengurangi rintangan dan suatu pertolongan yang membantunya mengerjakan tugas dengan lebih baik dan karyawan yang memAndang penyelia yang sama sebagai "kakak galak, yang memantau semua gerak-gerik, untuk memastikan bahwa saya tetap bekerja" akan berbeda respons perilaku mereka terhadap penyelia mereka itu. Perbedaan itu tidak bersangkut-paut dengan realitas dari tindakan penyelia itu, namun perbedaan perilaku karyawan itu disebabkan oleh persepsi yang berlainan.

Bukti menyarankan bahwa apa yang dipersepsikan oleh individu-individu dari situasi kerja mereka akan mempengaruhi produktivitas mereka lebih daripada situasi itu sendiri. Apakah suatu pekerjaan benar-benar menarik atau menantang tidaklah relevan. Apakah seorang wirausahawan berhasil merencanakan dan mengorganisasikan kerja dari bawahannya dan sebenarnya membantu mereka menstruktur kerja rmereka agar lebih efisien dan efektif jauh kurang penting ketimbang bagaimana para bawahan itu mempersepsikan upayanya.




Pengambilan Keputusan Individual
Individu-individu berpikir dan menalar sebelum mereka bertindak. Karena inilah suatu pemahaman bagaimana orang-orang mengambil keputusan dapat membantu menjelaskan dan meramalkan perilaku mereka. Pada beberapa situasi keputusan, orang mengikuti model optimasi. Tetapi bagi kebanyakan orang, dan kebanyakan keputusan nonrutin, agaknya hal ini lebih merupakan perkecualian daripada aturan. Sedikit keputusan penting bersifat cukup sederhana dan tidak memiliki arti yang sama untuk berlakunya pengAndaian-pengAndaian model optimasi. Jadi kita menemukan individu-individu yang mencari pemecahan yang cukup dan memuaskan (satisfice) bukannya yang mengoptimasi, dengan menyuntikkan sikap berat sebelah dan prasangka ke dalam proses keputusan, dan mengAndalkan pada intuisi.

Model keputusan alternatif yang kami sajikan dapat membantu menjelaskan dan meramal perilaku-perilaku yang akan tampak tidak rasional atau sebarang jika dipAndang di bawah pengAndaian-pengAndaian optimasi. Mengambil keputusan menyederhanakan proses dengan memfokuskan pada kriteria yang tampak dan mudah diukur. Ini dapat menjelaskan mengapa faktor-faktor seperti kerapian, tepat waktu, kegairahan, dan sikap positif sering dikaitkan dengan evaluasi-evaluasi yang baik. Itu juga menjelaskan mengapa lazimnya ukuran-ukuran kuantitas mengalahkan ukuran-ukuran kualitas. Kategori pertama lebih mudah dinilai. Upaya cukup dan memuaskan ini mendorong individu-individu untuk mengambil masalah yang tampak, bukannya masalah yang penting.

Apa yang dapat kita katakan mengenai etika?
Untuk individu-individu yang telah dipekerjakan, para wirausahawan hanya dapat mempengaruhi lingkungan kerja karyawan itu. Jadi hendaknya wirausahawan secara lahiriah berusaha menghantarkan stAndar etika yang tinggi kepada para karyawan lewat tindakan-tindakan yang dilakukannya. Dengan apa yang dikatakan, dilakukan, diganjar, dihukum, dan diabaikan oleh para wirausahawan mereka menyusun nada etis untuk para karyawan mereka. Ketika mempekerjakan karyawan baru, wirausahawan mempunyai suatu kesempatan menseleksi pelamar yang secara etis tidak diinginkan. Proses seleksi misalnya: wawancara, tes, dan pengecekan latar belakang, seharusnya dipAndang sebagai suatu kesempatan untuk belajar mengenai tingkat perkembangan moral dan tempat kedudukan kendali dari seorang individu itu. Kemudian ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi individu-individu yang stAndar etisnya mungkin konflik dengan stAndar etis organisasi atau yang terutama rawan terhadap pengaruh eksternal (luar) yang negatif.

Akhirnya, wirausahawan harus menjaga terhadap kecenderungan meningkatkan komit-men pada keputusan-keputusan untuk menghindari keharusan mengakui bahwa mereka membuat kekeliruan. Pengambilan keputusan muncul dengan risiko dan kadang Anda mengambil pilihan yang salah. Sering lebih rendah biayanya untuk mengakui suatu kekeliruan keputusan ketika kekeliruan itu pertama kali muncul daripada meningkatkan komitmen terhadap keputusan tersebut yang didasarkan pada harapan yang tidak realistis bahwa mungkin akhirnya terbukti keputusan itu benar. Jadi keputusan yang tepat apabila hasil yang dicapai optimal.
Perilaku Pengambilan- Keputusan Etis

Perilaku Pengambilan- Keputusan Etis

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pengambilan- keputusan etis.

Apa yang menyebabkan perilaku tak-etis dalam organisasi? Tak bermoralkah individu atau lingkungan kerja yang menggalakkan kegiatan yang tak etis? Jawabanya adalah kedua duanya! Bukti menandakan bahwa tindakan etis dan tak etis sebagian besar merupakan suatu fungsi baik dari karakteristik individu dan lingkungan dalam dimana ia bekerja.

Tahap-tahap perkembangan moral adalah suatu penilaian (assesment) dari kapasitas seseorang untuk menimbang-nimbang apakah yang secara moral benar. Makin tinggi per-kembangan moral seorang, makin kurang bergantung ia pada pengaruh-pengaruh luar dan, dari situ, akan makin cenderung ia untuk berperilaku etis. Misalnya, kebanyakan orang dewasa berada di tingkat menengah dari perkembangan moral-mereka sangat dipengaruhi oleh rekan sekerja dan akan mengikuti aturan dan prosedur suatu organisasi. Individu-individu yang telah maju ke tahap-tahap yang lebih tinggi itu menaruh nilai yang bertambah pada hak-hak orang lain, tak peduli akan pendapat mayoritas, dan kemungkinan besar menantang praktik-praktik organisasi yang mereka yakini secara pribadi sebagai keliru.

Itu adalah karakteristik kepribadian yang mengukur sejauh mana orang meyakini bahwa mereka bertanggungjawab untuk peristiwa-peristiwa dalam hidup mereka. Riset menunjukkan bahwa orang-orang dengan tempat kedudukan kendali eksternal (yaitu: apa yang terjadi pada mereka dalam kehidupan disebabkan oleh kemujuran atau peluang) lebih kecil kemungkinannya untuk memikul tanggung jawab atas konsekuensi-konskuensi dari perilaku mereka dan lebih besar kemungkinan untuk mengandalkan pengaruh-pengaruh eksternal. Kaum internal, di pihak lain, lebih mungkin untuk mengandalkan pada standar internal mereka sendiri mengenai benar atau salah untuk memandu perilaku mereka.
Lingkungan organisasional merujuk ke suatu persepsi karyawan mengenai pengharapan (ekspektasi) organisasional. Apakah organisasi itu mendorong dan mendukung perilaku etis dengan mengganjarnya atau menghalangi perilaku tak etis dengan menghukumnya? Kode etik yang tertulis, perilaku moral yang tinggi oleh manajemen senior, pengharapan yang realistis akan kinerja, penilaian kinerja yang mengevaluasi cara maupun hasil, pengakuan yang tampak dan promosi untuk individu-individu memperagakan perilaku moral yang tinggi, dan hukuman yang tampak untuk mereka yang bertindak tak etis merupakan beberapa contoh dari lingkungan organisasional yang kemungkinan besar memupuk pengambilan keputusan yang sangat etis.

Sebagai ringkasan, orang-orang yang kekurangan rasa moral yang kuat akan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk mengambil keputusan tak etis jika mereka dikendalai oleh lingkungan organisasional yang tidak menyukai perilaku semacam itu. Sebaliknya, individu yang sangat berbudi dapat dicemari oleh suatu lingkungan organisasional yang mengizinkan atau mendorong praktik-praktik tak etis.
Keputusan Dalam Budaya-Budaya

Keputusan Dalam Budaya-Budaya

Pengambilan Keputusan Dalam Budaya-Budaya Yang Berlainan

Siapa mengambil suatu keputusan, kapan keputusan itu diambil, dan pentingnya rasionalitas yang beraneka dalam organisasi-organisasi di seluruh dunia. Oleh karena itu, kita perlu mempertimbangkan budaya nasional bila kita membahas pendekatan seorang individu ke pengambilan keputusan.

Pengetahuan kita akan perbedaan-perbedaan jarak kekuasaan, misalnya, mengatakan kepada kita bahwa dalam budaya dengan jarak kekuasaan yang tinggi seperti di India, hanya manajer pada tingkat sangat senior yang mengambil keputusan. Pengetahuan kita bahwa budaya-budaya beraneka dalam orientasi waktu membantu kita memahami mengapa para manajer di Mesir akan mengambil keputusan pada laju yang jauh lebih perlahan dan lebih berhati-hati daripada padanan Amerika mereka. Bahkan pengandaian rasionalitas juga secara budaya berat-sebelah. Seorang manajer Amerika utara mungkin mengambil suatu keputusan penting secara intuitif, tetapi ia tahu bahwa penting agar pengambilan keputusan itu tampak berlangsung dalam suatu cara yang rasional. Ini menjelaskan mengapa, dalam model favorit implisit, pengambil keputusan mengembangkan suatu calon penegasan. itu menenangkan hati pengambil keputusan bahwa ia sedang berusaha bertindak rasional dan objektif dengan meninjau-ulang pilihan-pilihan alternatif. Dalam negeri-negeri seperti Iran, dimana rasionalitas tidak didewa-dewakan, upaya untuk tampak rasional tidaklah diperlukan. Kita juga dapat menilai pengaruh budaya dalam enam langkah dalam model keputusan optimasi. Untuk melukiskan, baiklah kita memeriksa dua langkah saja, yaitu: memastikan kebutuhan akan suatu keputusan dan mengembangkan alternatif.

Berdasarkan orienfasi kegiatan suatu masyarakat, beberapa budaya menekankan pemecahan masalah; budaya yang lain memfokuskan pada penerimaan baik situasi seperti apa adanya. Amerika Serikat termasuk dalam kategori yang pertama; Thailand dan lndonesia merupakan contoh-contoh dari budaya yang termasuk dalam kategori kedua. Karena manajer pemecah-masalah meyakini bahwa mereka dapat dan seharusnya mengubah situasi untuk manfaat mereka sendiri, wiraushawan Amerika mungkin mengidentifikasi suatu masalah jauh sebelum orang Thai atau Indonesia padanan mereka akan memilih untuk mengenali masalah itu seperti apa adanya. Kita juga dapat menggunakan beda orientasi waktu untuk memproyeksikan tipe alternatif-alternatif yang mungkin dikembangkan oleh pengambil keputusan. Karena orang Italia menghargai masa lalu dan tradisi, manajer-manajer dalam budaya itu akan cenderung mengandalkan pada alternatif yang pernah dicoba dan berhasil dalam menghadapi problem-problem. Kontras dengan itu, Amerika Serikat dan Australia lebih agresif dan berorientasi ke masa kini; wirausahawan dalam negeri-negeri ini lebih besar kemungkinan untuk mengemukakan pemecahan-pemecahan yang unik dan kreatif terhadap masalah-masalah mereka.

Peningkatan komitmen mempunyai implikasi-implikasi yang luas bagi keputusan manajerial dalam organisasi. Banyak organisasi telah menderita kerugian besar karena wirausahawan bertekad membuktikan bahwa keputusan awalnya benar dengan terus mengorbankan sumber daya ke apa yang merupakan urusan rugi sejak awal.
Memperbaiki Pengambilan Keputusan yang Etis

Memperbaiki Pengambilan Keputusan yang Etis

Isu-isu dalam Pengambilan Keputusan
Dapat disimpulkan bahwa tiga isu dewasa ini dalam pengambilan keputusan:
1.    memperbaiki pengambilan keputusan yang etis;
2.    bagaimana gaya pengambilan keputusan beraneka dalam negeri-negeri yang berlainan; dan
3.    kecenderungan bagi orang-orang untuk terus menggunakan sumberdaya-sumberdaya untuk suatu keputusan sebelumnya meskipun ada bukti bahwa keputusan yang awal itu suatu kekeliruan.


Memperbaiki Pengambilan Keputusan yang Etis
Tidak ada pembahasan kontemporer mengenai pengambilan keputusan akan lengkap tanpa dimasukkannya etika. Mengapa'? Karena pertimbangan etis seharusnya merupakan suatu kriteria yang penting dalam pengambilan keputusan organisasional. Dalam materi ini, kami menyajikan tiga cara yang berlainan untuk menciptakan  keputusan-keputusan dan memeriksa faktor-faktor yang membentuk perilaku pengambilan keputusan etis.

TIGA KRITERIA KEPUTUSAN ETIS Suatu individu dapat menggunakan tiga kriteria yang berlainan dalam mengambil pilihan yang etis. Yang pertama adalah kriterium manfaat (utilitarian), yang mana keputusan-keputusan diambil semata-mata atas dasar hasil atau konsekuensi mereka. Tujuan utilitarianisme adalah memberikan kebaikan yang terbesar untuk jumlah yang terbesar. PAndangan ini cenderung mendominasi pengambilan keputusan bisnis. Itu konsisten dengan tujuan-tujuan seperti etisiensi, produktivitas, dan laba yang tinggi. Dengan memaksimalkan laba, misalnya, suatu eksekutif bisnis dapat berargumen ia sedang menjamin kebaikan terbesar untuk jumlah terbesar-seperti ia mengeluarkan pemberitahuan pemberhentian kepada 15 persen karyawan.

Suatu kriterium etis lain adalah memfokus pada hak. Kriterium Ini mempersilakan individu-individu untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan kebebasan dan keistimewaan mendasar seperti dikemukakan dalam dokumen-dokumen seperti Piagam Hak Asasi. Suatu tekanan pada hak-hak dalam pengambilan keputusan berarti menghormati dan melindungi hak-hak dasar dari para individu, seperti misalnya hak keleluasaan pribadi (privacy), kebebasan berbicara, dan proses perlindungan hak.

Suatu kriterium ketiga adalah memfokuskan pada keadilan. Ini mensyaratkan individu-individu untuk mengenakan dan memperkuat aturan-aturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga ada pembagian manfaat dan biaya yang pantas. Lazimnya anggota serikat buruh menyukai pAndangan ini. Kriterium ini membenarkan pembayaran upah yang sama kepada orang-orang untuk suatu pekerjaan tertentu, tanpa mempedulikan beda kinerja, dan penggunaan senioritas sebagai penentuan primer dalam mengambil keputusan pemberhentian massal.

Masing-masing dari ketiga kriteria mempunyai keuntungan dan kewajiban. Suatu fokus pada utilitarianisme menggalakkan efisiensi dan produktivitas, tetapi dapat mengakibatkan pengabaian hak-hak dari beberapa individu, terutama mereka dengan perwakilan minoritas dalam organisasi itu. Penggunaan hak-hak sebagai kriterium melindungi individu-individu dari cedera dan konsisten dengan kebebasan dan keleluasaan pribadi, tetapi kriterium ini dapat menciptakan suatu lingkungan kerja yang terlalu legalistik yang merintangi produktivitas dan efisiensi. Suatu fokus pada keadilan melindungi kepentingan mereka yang kurang terwakili dan yang kurang berkuasa, tetapi kriterium ini dapat mendorong rasa berhak yang mengurangi pengambilan risiko, inovasi, dan produktivitas.

Pengambil keputusan, terutama dalam organisasi mengejar-laba, cenderung merasa aman dan nyaman bila mereka menggunakan utilitarianisme. Banyak sekali tindakan yang dapat dipertanyakan dapat dibenarkan bila dikerangkai sebagai demi kepentingan terbaik dari "organisasi" dan pemilik usaha. Tetapi banyak pengritik terhadap pengambil keputusan bisnis berkilah bahwa perspektif ini perlu diubah. Kepedulian yang meningkat dalam masyarakat mengenai hak-hak individu dan keadilan sosial menyarankan perlunya bagi para wirausahawan untuk mengembangkan stAndar-stAndar etika yang didasarkan pada kriteria non-utiliter. Ini mengemukakan suatu tantangan yang kokoh bagi para manajer dewasa ini karena pengambilan keputusan dengan menggunakan kriteria seperti hak individu dan keadilan sosial melibatkan jauh lebih banyak keberagaman arti (ambiguitas) daripada penggunaan kriteria utiliter seperti misalnya efek pada efisiensi dan laba. Ini membantu menjelaskan mengapa para wirausahawan ternyata makin banyak dikritik karena tindakan-tindakannya. Menaikkan harga, menjual produk dengan efek yang dipertanyakan terhadap kesehatan konsumen, menutup pabrik, memberhentikan massal karyawan, memindahkan produksi ke luar negeri untuk mengurangi biaya, dan keputusan serupa yang dapat dibenarkan dalam makna utiliter. Tetapi itu mungkin tidak lagi menjadi kriterium tunggal dengan mana keputusan yang baik seharusnya dinilai.
Model Intuitif / Model-model Pembuatan Keputusan

Model Intuitif / Model-model Pembuatan Keputusan

Model Intuitif
Pengambilan keputusan intuitif adalah pengambilan keputusan yang didasarkan atas perasaan (feeling). Saat ini para ahli berpendapat bahwa penggunaan intuisi untuk mengambil keputusan tidak selamanya  tak rasional atau tak-efektif. Terdapat pengakuan dari wirausahawan  bahwa analisis rasional dalam kasus-kasus tertentu, mengAndalkan pada intuisi dan ternyata dapat memperbaiki pengambilan keputusan.

Ada sejumlah cara untuk mengkonseptualkan intuisi. Misalnya, beberapa orang menganggapnya suatu bentuk kekuatan ekstrasensori (luar indera) atau indera keenam, dan beberapa meyakini bahwa itu adalah suatu ciri kepribadian yang hanya dimiliki oleh beberapa orang sejak lahir. Untuk maksud kami, kami mendefinisikan pengambilan keputusan intuitif sebagai suatu proses tak sadar yang diciptakan dari dalam pengalarnan yang tersaring. Intuisi ini tidak harus berjalan secara tak bergantung dengan analisis rasional; lebih tepat, keduanya saling melengkapi (komplementer).

Riset mengenai permainan catur memberikan suatu contoh yang sangat baik dari bagaimana intuisi itu bekerja. Pemain catur pemula dan para grandmaster ditunjukkan suatu permainan yang sebenarnya tetapi tidak dikenal-baik dengan seki tar 25 buah di atas papan. Setelah lima atau sepuluh detik, buah-buah itu dising-kirkan dan tiap orang ditanya untuk menyusun-ulang letak buah-buah itu. Secara rata-rata, grandmaster dapat menaruh 23 atau 24 buah dalam kotak yang benar; pemula hanya mampu menaruh 6. Kemudian latihan itu diubah. Kali ini buah-buah itu ditaruh secara acak di atas papan. Sekali lagi, para pemula hanya mencapai enam yang benar, tetapi demikian pula para grandmaster! Latihan kedua memperagakan bahwa para grandmaster tidak mempunyai ingatan yang lebih baik daripada pemula. Apa yang benar dimiliki adalah kemampuan, berdasarkan pengalaman setelah memainkan ribuan partai, untuk mengenali pola-pola dan kelompok buah-buah yang berada di atas papan catur dalam berjalannya permainan.

Studi-studi lebih lanjut menunjukkan bahwa profesional catur dapat memainkan 50 partai atau lebih secara serentak, dimana sering keputusan harus dibuat hanya dalam hitungan detik. dan memperagakan tingkat ketrampilan yang hanya sedang saja lebih rendahnya daripada bila bermain satu partai pada kondisi pertandingan, dimana keputusan-keputusan memakan waktu setengah jam atau lebih. Pengalaman para pakar memungkinkan dia untuk mengenali suatu situasi dan menarik informasi yang telah dipelajari sebelumnya yang terkait dengan situasi itu untuk dengan cepat sampai pada pilihan keputusan. Hasilnya adalah bahwa pengambil keputusan intuitif dapat memutuskan dengan cepat dengan apa yang tampaknya adalah informasi yang sangat terbatas.

Dalam situasi yang bagaimana seorang wirausahawan dapat MENGAMBIL KEPUTUSAN DENGAN  INTUISI?
Ada delapan kondisi/situasi yang memicu pengambilan keputusan secara intuitif, yaitu apabila:
(1)  Ada ketidakpastian dalam tingkat yang tinggi;
(2)   Hanya sedikit preseden untuk diikuti;
(3)   Variabel-variabel yang terkait kurang dapat diramalkan secara ilmiah
(4)   Fakta terbatas;
(5)   Fakta tidak  jelas menunjukkan jalan untuk dituruti;
(6)   Data analitis kurang berguna;
(7)   Ada beberapa penyelesaian alternatif yang masuk akal untuk dipilih diantaranya, dengan argumen yang baik untuk masing-masing; dan
(8)   Waktu terbatas dan ada tekanan untuk segera diambil keputusan yang tepat.

Adakah suatu model stAndar yang diikuti orang-orang kapan menggunakan intuisi`? Individu-individu tampaknya mengikuti salah satu dari dua pendekatan. Mereka menerapkan intuisi baik pada ujung depan maupun pada ujung belakang proses pengambilan keputusan.

Bila intuisi digunakan pada ujung depan, pengambil keputusan mencoba menghindari menganalisis problem itu secara sistematis, tetapi sebagai gantinya memberikan kebebasan kepada intuisi. Idenya adalah mencoba menimbulkan kemungkinan-kemungkinan yang tak biasa dan pilihan-pilihan baru yang mungkin tidak muncul dari dalam suatu analisis dari data masa lalu atau cara-cara tradisional untuk menyelesaikan urusan. Suatu pendekatan ujung-belakang dalam penggunaan intuisi mengAndalkan pada analisis rasional untuk mengidentifikasi dan memberikan bobot-bobot kepada kriteria keputusan, maupun mengembangkan dan mengevaluasi alternatif-alternatif. Setelah ini dilakukan, pengambil keputusan menghentikan proses analitis untuk "mengendapkan keputusan itu" untuk sehari dua sebelum mengambil pilihan yang terakhir.

Meskipun pengambilan keputusan intuitif telah memperoleh tempat terhormat sejak awal dasawarsa 1980-an, janganlah mengharapkan orang-orang yang menggunakannya teristimewa di Amerika Utara, Inggris Raya, dan budaya-budaya lain dimana analisis rasio nal merupakan cara yang diakui untuk mengambil keputusan mengakui bahwa mereka melakukan demikian. Orang-orang dengan kemampuan intuitif yang kuat biasanya tidak mengatakan kepada rekan-rekan mereka bagaimana mereka sampai pada kesimpulan. Karena analisis rasional dianggap sebagai lebih diinginkan secara sosial, kemampuan intuitif sering tersamar atau tersembunyi. Seperti komentar seorang eksekutif puncak, "kadang orang harus mendAndani suatu keputusan berdasarkan keberanian (gut decision] dalam 'pakaian data' untuk membuatnya dapat diterima baik atau lezat, tetapi stel-halus (fine tuning) ini biasanya setelah keputusan itu menjadi fakta.
Model Favorit Implisit / Model-model Pembuatan Keputusan

Model Favorit Implisit / Model-model Pembuatan Keputusan

Model Favorit Implisit
Suatu model yang dirancang untuk menangani keputusan rumit dan tak rutin adalah model favorit implisit. Seperti model cukup memuaskan, model ini berargumen bahwa individu-individu memecahkan problem yang kompleks dengan menyederhanakan proses itu. Tetapi penyederhanaan dalam model favorit implisit berarti tidak memasuki kedalam tahap "evaluasi alternatif" yang sulit dari pengambilan keputusan sebelum salah satu alternatif dapat dikenali sebagai suatu "favorit" yang implisit [tersirat]. Dengan kata lain, pengambil keputusan tidak rasional dan tidak objektif. Sebagai gantinya, dini dalam proses keputusan itu, secara implisit ia memilih suatu alternatif yang lebih disukai. Kemudian sisa dari proses keputusan itu pada hakikatnya adalah suatu latihan pembenaran keputusan, dimana pengambil keputusan memastikan bahwa favorit imphsitnya memang merupakan pilihan yang "benar".

Model favorit implisit pada awalnya tumbuh dari riset mengenai keputusan pekerjaan yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa pascasarjana jurusan manajemen pada Massachusetts Institute of Technology. Jelas, mahasiswa-mahasiswa ini tahu dan memahami model optimasi. Mereka telah menghabiskan beberapa tahun berulang-ulang menggunakannya untuk memecahkan masalah dan menganalisis kasus-kasus dalam kuliah akuntansi, keuangan, manajemen, pemasaran, dan metode kuantitatif. Lagi pula, keputusan pilihan pekerjaan adalah suatu keputusan yang penting. Jika ada suatu keputusan dimana model optimasi seharusnya digunakan, dan suatu kelompok berpengalaman dalam menggunakannya, seharus-nya itulah yang digunakan. Tetapi peneliti itu menemukan bahwa model optimasi itu tidak diikuti. Sebagai gantinya, model favorit implisit itu memberikan suatu pemberian yang tepat (akurat) dari proses keputusan yang sebenarnya.

Jadi akan ditimbulkan lebih banyak alternatif. Ini penting, karena itu memberikan penampilan keobjektifan. Kemudian mulailah proses penegasan [konfirmasi]. Perangkat alternatif akan dibagi menjadi dua calon pilihan dan suatu calon penegasan. Jika calon pilihan merupakan satu-satunya pilihan yang bertahan, pembuat keputusan akan mencoba memperoleh suatu alternatif lain yang dapat diterima baik untuk menjadi calon penegasan, sehingga ia akan mempunyai sesuatu untuk diperbandingkan. Pada titik ini, pembuat keputusan menegakkan kriteria dan bobot keputusan. Terjadi distorsi perseptual dan interpretasional yang cukup besar, dengan pilihan kriteria dan bobot kriteria "dibentuk" untuk memastikan kemenangan bagi pilihan yang disenangi. Dan tentu saja itulah eksak apa yang terjadi. Evaluasi memperagakan tanpa keraguan keunggulan dari calon pilihan dibandingkan calon penegasan.

Riset baru-baru ini memberikan dukungan yang kuat untuk beberapa dari prinsip pri-mer dari model favorit implisit. Bukti yang cukup banyak menyarankan bahwa individu-individu sering membuat suatu komitmen dini ke satu alternatif dan tidak mengevaluasi kekuatan dan kelemahan dari berbagai alternatif sampai setelah membuat pilihan final mereka.
Cukup Memuaskan / Model-model Pembuatan Keputusan

Cukup Memuaskan / Model-model Pembuatan Keputusan

Cukup Memuaskan
Hakikat dari model cukup memuaskan (satisficing) (satisfactory and sufficient) adalah bahwa, bila menghadapi masalah-masalah yang rumit, pengambil keputusan menanggapi dengan mengurangi atau mengecilkan masalah-masalah itu ke suatu tingkat yang dapat dengan mudah difahami. Ini karena kemampuan pemrosesan informasi wirausahawan sebagai manusia tidak memungkinkan untuk mengasimilasi dan memahami semua informasi yang diperlukan untuk mengoptimasi. Karena kapasitas pikiran manusia untuk merumuskan dan memecahkan problem-problem yang kompleks itu jauh terlalu kecil untuk memenuhi semua persyaratan untuk rasionalitas yang penuh, individu-individu bekerja dalam batas-batas rasionalitas berikat, dan keterbatasan kemampuan  manusia selalu berusaha menghadapi dengan lebih seksama.

Bagaimana rasionalitas berikat berhasil untuk individu yang lazim? Sekali suatu masalah telah dikenali, pencarian kriteria dan alternatif dimulai. Tetapi kemungkinan besar daftar kriteria masih jauh dari tuntas. Pengambil keputusan akan mengenali suatu daftar terbatas yang tersusun atas pilihan-pilihan yang lebih menyolok. Inilah pilihan yang mudah ditemukan dan cenderung sangat tampak (visible). Dalam kebanyakan kasus, pilihan ini menyatakan kriteria yang dikenal baik dan pemecahan coba-coba yang ternyata benar. Sekali seperangkat terbatas alternatif ini dikenali, pengambil keputusan akan mulai meninjau-ulang alternatif-alternatif ini. Tetapi tinjauan ulang itu tidak akan menyeluruh. Artinya, tidak semua alternatif akan dievaluasi dengan saksama. Sebagai gantinya, pengambil keputusan akan mulai dengan alternatif-alternatif yang hanya berbeda dalam derajat yang relatif kecil dari pilihan yang sekarang ini berlaku. Salah satu aspek yang lebih menarik dari model cukup-memuaskan itu adalah bahwa urutan alternatif-alternatif itu harus dipertimbangkan  untuk menentukan alternatif mana yang dipilih.  Semua pemecahan yang potensial akan mendapatkan suatu evaluasi yang penuh dan lengkap. Tetapi tidak demikian halnya dengan kasus cukup-memuaskan. Dengan mengAndaikan suatu masalah mempunyai lebih dari satu pemecahan yang potensial, pilihan cukup-memuaskan akan merupakan pilihan pertama yang dapat diterima-baik yang dijumpai oleh pengambil keputusan. Karena para pengambil keputusan menggunakan model yang sederhana dan terbatas, lazimnya mereka mulai dengan mengidentifikasi alternatif-alternatif yang jelas, alternatif yang dikenal baik oleh mereka, dan alternatif yang tidak terlalu jauh dari status quo (keadaan sekarang). Pemecahan-pemecahan yang paling sedikit menyimpang dari status quo dan memenuhi kriteria keputusan akan paling mungkin untuk dipilih. Ini dapat membantu menjelaskan mengapa banyak keputusan yang diambil orang tidak menghasilkan kumpulan pemecahan yang secara radikal berbeda dari keputusan yang telah mereka ambil sebelumnya. Suatu alternatif yang unik dapat menyajikan suatu pemecahan yang mengoptimalkan terhadap problem itu; tetapi jarang itu akan dipilih. Suatu pemecahan yang dapat diterima-baik akan dikenali dengan baik sebelum pengambil keputusan itu perlu mencari sangat jauh melampaui status quo. Alternatif yang dipilih dalam pemecahan masalah antara lain:
a.    alternatif yang paling menguntungkan
b.    resiko terendah
c.     diterima semua pihak
d.    rasional, efektif, dan efisien
Konsep Dasar  Model Optimasi

Konsep Dasar Model Optimasi

Konsep Dasar Model Optimasi
KOnsep dasar dari model optimasi adalah rasionalitas. Rasionalitas merujuk ke pilihan-pilihan yang konsisten dan memaksimalkan nilai. Oleh karena itu pengambilan keputusan rasional menyiratkan bahwa pengambil keputusan dapat objektif sepenuhnya dan logis. Wirausahawan harus mempunyai suatu tujuan yang jelas, dan keempat langkah dalam model optimasi diAndaikan menghantar ke seleksi alternatif yang akan memaksimalkan tujuan tersebut.  Unsur-unsur dalam rasionalitas, terdiri atas:

BERORIENTASI TUJUAN
Setiap pengambilan keputusan harus berorientasi dan tidak boleh menyimpang dari  tujuan usaha yang telah ditetapkan.

MENGETAHUI SEMUA ALTERNATIF PILIHAN
 Pengambil keputusan harus mengenali semua kriteria yang relevan dan dapat mendaftar semua alternatif yang ada. Wirausahawan harus mengetahui semua informasi yang terkait dengan seluruh pilihan alternatif yang ada.

PRIORITAS ALTERNATIF SOLUSI
Faktor-faktor penyebab dan alternatif solusi da­pat diberi nilai nomorisasi (numeris) dan diperingkatkan dalam suatu urutan preferensi.

PILIHAN TERAKHIR AKAN MEMAKSIMALKAN HASIL
 Pengambil keputusan rasional, dengan mengikuti model optimasi, akan memilih alternatif yang mempunyai resiko terendah dan keuntungan tertinggi. Diharapkan proses ini dapat membe­rikan manfaat  yang maksimum.
Artikel (sebuah Wacana)
Langkah-langkah dalam Model Optimasi

Langkah-langkah dalam Model Optimasi

Langkah-langkah dalam Model Optimasi
Ada empat langkah yang harus dilakukan untuk mengambil keputusan, yaitu:

LANGKAH 1: PASTIKAN KEBUTUHAN AKAN SUATU KEPUTUSAN
Umumnya keputusan diambil sebagai tindak lanjut akan adanya suatu masalah. Langkah pertama sebagai tindakan pemecahan masalah tersebut adalah bahwa suatu keputusan perlu diambil. Eksistensi suatu masalah­ adalah suatu disparitas (perbedaan) antara sesuatu keadaan yang diinginkan dan kondisi yang sebenarnya. Jika kita menghitung pengeluaran bulanan dan penghasilan bahwa pembelanjaan Rp 500.000,-  lebih besar daripada penghasilan kita, maka ada disparitas antara tingkat pengeluaran yang ada  dengan  penghasilan yang kita dapatkan. Ada masalah pada selisih pendapatan dan pengeluaran bulanan kita.

LANGKAH 2: IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA MASALAH
Setelah seorang wirausahawan merasakan “Pengambilan Keputusan” sebagai suatu kebutuhan mendesak dalam upaya memecahkan masalah, maka wirausahawan tersebut harus mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi  timbulnya permasalahan tersebut dan faktor-faktor yang mempengaruhi  kualitas keputusan yang akan diambilnya.

Misalnya seorang wirausahawan memiliki MASALAH tentang PENURUNAN PENJUALAN  PRODUKNYA , maka ia harus mengidentifikasi faktor-faktor penyebab timbulnya penurunan penjualan. Apakah faktor, rendahnya  kualitas produk, kurangnya  promosi, sedikitnya jalur distribusi, tingginya harga dan lain sebagainya. Analisa yang tepat terhadap faktor-faktor penyebab tersebut, akan mempengaruhi tingkat akurasi pemecahan masalah yang ditetapkan. Penetapan keputusan pun harus mengidentifikasi faktor-faktor penentu kualitas keputusan tersebut. Contohnya adalah pasar/konsumen, distributor dan sebagainya  selaku pihak –pihak  yang akan mengalami dampak kebijakan-kebijakan tersebut.

LANGKAH 3: BUAT ALTERNATIF SOLUSI
Langkah ketiga menuntut pengambil keputusan untuk mendaftar semua alternatif solusi. Dari faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut di atas, buatlah alternatif solusi yang  dapat mengarahkan wirausahawan untuk sampai pada satu keputusan yang terbaik.

LANGKAH 4: PILIH ALTERNATIF TERBAIK
Langkah terakhir dalam model keputusan optimasi adalah pemilihan alternatif terbaik dari antara alternatif yang ada yang sudah dievaluasi. Pilihlah alternatif yang paling rendah resikonya. Karena itu lakukan evaluasi dengan memperhitungkan cost and benefit  (keuntungan dan kerugian) setiap alternatif, dengan cermat.
Keputusan Individual dengan Keputusan Kelompok

Keputusan Individual dengan Keputusan Kelompok

Hubungan Antara Persepsi Pengambilan Keputusan Individual dengan Keputusan Kelompok
 Seorang wirausahawan tidak dapat dipisahkan dari organisasi, karena dalam berusaha wirausahawan tersebut tentunya melibatkan satu, dua atau beberapa orang yang membantunya dalam bekerja. Dalam kondisi tersebut, maka wirausahawan selalu dituntut untuk mengambil keputusan yang terkadang merupakan pilihan dari beberapa alternatif pilihan. Wirausahawan tentunya akan  menentukan tujuan-tujuan organisasi usahanya, produk atau jasa apa yang akan ditawarkan, bagaimana yang terbaik dalam meng­organisir karyawan-karyawannya, atau dimana menempatkan pabrik manufaktur yang baru. menengah dan tingkat lebih bawah menentukan jadwal produksi, memilih karya­wan baru, dan memutuskan bagaimana kenaikan upah itu akan dibagi. Tentu saja, mengambil keputusan bukanlah urusan wirausahawan sebagai pemilik (owner) dan manajernya  saja. Karyawan nonmanajerial juga mengambil keputusan yang mempengaruhi pekerjaan mereka dan organisasi usaha tempat mereka bekerja. Keputusan yang lebih jelas mungkin mencakup apa­kah masuk kerja atau tidak pada suatu hari tertentu, berapa banyak upaya untuk mengemukakan ide-ide di tempat kerja, dan apakah mematuhi permintaan atasan.

Di samping itu, makin banyak organisasi usaha akhir-akhir ini yang telah memberi kuasa kepada karyawan nonmanajerial dengan kewenangan pengambilan-keputusan yang dikaitkan dengan pekerjaan yang secara historis dicadangkan hanya untuk para pimpinan. Oleh karena itu, pengambilan keputusan individual merupakan suatu bagi­an penting dari perilaku organisasi. Organisasi perusahaan adalah wadah dimana seorang wirausahawan menjalankan usahanya. Tetapi bagaimana individu-individu dalam organisasi mengambil keputusan, dan kualitas dari pilihan terakhir mereka, sebagian besar dipengaruhi oleh persepsi-persepsi mereka.

Pengambilan keputusan terjadi sebagai suatu reaksi terhadap suatu MASALAH (PROBLEM).  Terdapat suatu penyimpangan antara sesuatu keadaan dewasa ini dan sesuatu keadaan yang diinginkan, yang menuntut pertimbangan arah-arah tindakan alternatif. Jadi jika mobil Anda rusak dan Anda mengAndalkannya untuk pergi ke sekolah, Anda mempunyai suatu masalah yang menuntut suatu keputusan di pihak Anda. Sayang, kebanyakan masalah tidak muncul terkemas dengan rapi dengan suatu etiket yang berbunyi "MASALAH” (PROBLEM) yang dipera­gakan dengan jelas pada masalah-masalah itu. Masalah dari satu orang merupakan keadaan yang memuaskan dari orang lain. Seorang wirausahawan mungkin memAndang kemerosotan sebanyak 2 persen penjualan kuartalan dari divisinya sebagai suatu masalah yang serius yang menuntut tindakan mendesak dari pihaknya. Kontras dengan itu, sebenarnya dalam suatu perusahaan lain yang juga menghadapi penurunan penjualan sebanyak 2 persen, dapat menganggap hal itu sebagai sangat memuaskan. Jadi kesadaran akan adanya suatu masalah dan suatu keputusan perlu diambil adalah suatu isu perseptual.

Lagi pula, semua keputusan menuntut penafsiran dan evaluasi terhadap informasi. Lazimnya data diterima dari berbagai sumber dan data itu perlu ditapis, diproses. dan ditaf­sirkan. Data manakah, misalnya, relevan dengan keputusan dan mana yang tidak? Persepsi­-persepsi dari pengambil keputusan akan menjawab pertanyaan ini. Akan dikembangkan alternatif-alternatif serta kekuatan dan kelemahan dari tiap alternatif perlu dievaluasi. Sekali lagi, karena alternatif-alternatif tidak muncul dengan bendera merah yang mengidentifikasi mereka sebagai alternatif, atau dengan kekuatan dan kelemahannya ditAndai dengan jelas. proses perseptual dari pengambil keputusan individual akan mempunyai hubungan yang besar pada hasil akhirnya.
Contoh Soal Kewirausahaan

Contoh Soal Kewirausahaan

OBJECTIVE TEST
1.      Kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses, merupakan pengertian  dari….
a.    Wirausaha
b.    Wirausahawan
c.    Pengusaha
d.    Kewirausahaan
e.    Pedagang

2.      Sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif, merupakan pengertian dari….
a.    Wirausaha
b.    Wirausahawan
c.    Pengusaha
d.    Kewirausahaan
e.    Penjual

3.      Orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber- daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses, merupakan pengertian dari….
a.    Wirausaha
b.    Wirausahawan
c.    Pengusaha
d.    Kewirausahaan
e.    Kewiraswastaan

4.         Berikut adalah cara-cara yang dapat digunakan untuk menciptakan nilai tambah suatu produk, kecuali….
a.    Pengembangan produk baru
b.    Perbaikan produk yang sudah ada
c.    Pengembangan teknologi baru
d.    Penemuan pengetahuan baru
e.    Pengembangan pasar baru

5.      Keyakinan, kemandirian, individualitas dan optimisme merupakan ciri-ciri watak….
a.    Keorisinilan
b.    Kepemimpinan
c.    Kejujuran
d.    Percaya Diri
e.    Pengambil Resiko

6.      Memiliki kemampuan mengambil resiko dan suka pada tantangan merupakan ciri-ciri watak….
a.    Keorisinilan
b.    Kepemimpinan
c.    Kejujuran
d.    Percaya Diri
e.    Pengambil Resiko

7.      Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas, merupakan ciri-ciri watak….
a.    Keorisinilan
b.    Kepemimpinan
c.    Kejujuran
d.    Percaya Diri
e.    Pengambil Resiko

8.      Kebutuhan akan prestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik dan memiliki inisiatif, merupan ciri-ciri watak….
a.    Berorientasi ke depan
b.    Berorientasikan tugas dan hasil
c.    Kepemimpinan
d.    Kepercayaan diri
e.    Pengambil Resiko

9.      Memiliki persepsi positif dan cara pAndang ataupun pola pikir yang berorientasi pada masa depan, merupakan ciri-ciri watak….
a.    Berorientasi ke depan
b.    Berorientasikan tugas dan hasil
c.    Kepemimpinan
d.    Kepercayaan diri
e.    Pengambil Resiko

10.   Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun, merupakan ciri-ciri watak….
a.    Berorientasi ke depan
b.    Berorientasikan tugas dan hasil
c.    Kepemimpinan
d.    Kepercayaan diri
e.    Pengambil Resiko

11.   Ketepatan komitmen wirausahawan terhadap tugas dan pekerjaannya, baik terhadap waktu, kualitas pekerjaan dan sistem kerja, merupakan pengertian dari….
a.    Tangguh
b.    Mandiri
c.    Disiplin
d.    Kreativitas
e.    Komitmen tinggi

12.   Kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain, merupakan pengertian dari….
a.    Tangguh
b.    Mandiri
c.    Disiplin
d.    Kreativitas
e.    Komitmen tinggi

13.   Bila seorang wirausahawan berpendapat bahwa dalam menjalankan usahanya yang paling penting untuk diutamakan adalah mutu produk, dengan mengabaikan faktor promosi dan pelayanan, maka dapat dikatakan bahwa wirausahawan tersebut, menggunakan …dalam operasionalisasi usahanya:
a.    Konsep Produk
b.    Konsep Promosi
c.    Konsep Sosial
d.    Konsep Penjualan
e.    Konsep Pemasaran
14.   Bila seorang wirausahawan berpendapat bahwa faktor promosi merupakan faktor yang paling utama dalam kegiatan usahanya, dan mengabaikan kepuasan konsumen serta etika bisnis, maka dapat dikatakan bahwa wirausahawan tersebut, menggunakan …dalam operasionalisasi usahanya
a.    Konsep Produk
b.    Konsep Promosi
c.    Konsep Sosial
d.    Konsep Penjualan
e.    Konsep Pemasaran

15.   Bila seorang wirausahawan berpendapat bahwa kepuasan konsumen  merupakan faktor yang paling utama dalam kegiatan usahanya, maka dapat dikatakan bahwa wirausahawan tersebut, menggunakan …dalam operasionalisasi usahanya
a.    Konsep Produk
b.    Konsep Promosi
c.    Konsep Sosial
d.    Konsep Penjualan
e.    Konsep Pemasaran

16.   Bila seorang wirausahawan berpendapat bahwa pelayanan publik  merupakan faktor yang paling utama dalam kegiatan usahanya, maka dapat dikatakan bahwa wirausahawan tersebut, menggunakan …dalam operasionalisasi usahanya:
a.    Konsep Produk
b.    Konsep Promosi
c.    Konsep Sosial
d.    Konsep Penjualan
e.    Konsep Pemasaran
17.   Cara berpikir yang maju, yang penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang selama ini ada di pasar, merupakan …yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan:
a.    Kemandirian
b.    Daya Inovasi
c.    Kreativitas
d.    Kepribadian
e.    Komitmen tinggi

18.   Realisasi dari cara berpikir yang maju, yang penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang selama ini ada di pasar, merupakan …yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan:
a.    Kemandirian
b.    Daya Inovasi
c.    Kreativitas
d.    Kepribadian
e.    Komitmen tinggi

19.   Kemampuan untuk melakukan segala sesuatu, termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tanpa ada ketergantungan dengan pihak lain merupan jiwa…yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan:
a.    Kemandirian
b.    Daya Inovasi
c.    Kreativitas
d.    Kepribadian
e.    Komitmen tinggi

20.   Sifat…adalah sifat yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan, yaitu kemampuan menggunakan fakta sebagai lAndasan berpikir yang rasionil dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan/perbuatannya:
a.    Mandiri
b.    Kreatif
c.    Realistis
d.    Jujur
e.    Disiplin

Copyright © 2012-2099 Contoh Artikel Berita - Template by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.